Bertanyalah pada liuk bambu
disepanjang jalan yang kita lalui.
Sambil kau memuji kilau pucat bulan diatas kepala kita.
Sejarah yang telah menarikmu dalam frustasi getir
namun tetap kau banggakan.
Lalu bersama angin....
Saat kau lucu berucap : " Betapa mesra kita..." ketika kau melindungi aku dari rinai gerimis sore itu
Saat tawa kita memecah
hingga nyaris tak terdengar.
dan...
ketika aku pergi,kita banyak diam
"Aku ingin menjadi puisi yang kau baca berulang kali.."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar