Jemari Alam Menyambutmu

Senin, 19 September 2011

Tanpa Pantai

Dua hari ini aku menganalogikan diri seperti laut tanpa pantai. Apa jadinya gemuruh yang berputar - putar mendentum dan membuncah hanya di pusaran samudera jiwanya sendiri?? pecah dan berbuih sendiri.Bergejolak tanpa tempat menepi dan berbagi rasa.Pedih.....

Kudapati pantaiku dalam hening yang tak terbaca olehku.
Pasirnya masih berjejak, dalam rupa gores alam yang bermakna bahagia namun ganjil. landscape senja dengan matahari tua yang kelabu. Ibarat lelaki tua yang menunggu anak lelaki yang berlayar dan belum juga pulang.

Mengingkarinya seperti menyesatkan diri dalam labirin panjang. Menapikannya seperti menggenggam bara saat diri gigil butuh kehangatan. Kulepas padam, kugenggam tebakar. Simalakama. Tapi apa harus sedemikian rumit memaknai perasaan - perasaan manusia yang telah 33 tahun menjejak dunia???

Ini hanya sebuah warna. mempertegas bahwa kita tidak seperti "warna - warna" yang lain itu. Terlalu luas dimensi yang harus kita jelaskan saat semesta pembicaraan kita sudah bisa kita rumuskan. Kita tak hanya ingin menjadi manusia dewasa yang arogan, tapi kita ingin membingkai dengan cara kita. Hingga lukisan itu bisa kita pandang secara bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar